Enlightening the mind, heart, and soul; by His consent.

Enlightening through ideas, thoughts, humor, experience, and knowledge.

Jumat, 27 Februari 2015

Dilemmas and Decisions for Life

28 Februari 2015
               
               Dan, ketika lagu itu kembali terdengar; Ayumi by GReeeeN, air mata seketika jatuh dari mata ini, melukiskan betapa menyesal, kesal, malu, dan sedikit marah pada diri sendiri, mengapa saya sama sekali TIDAK BERSYUKUR atas apa yang terjadi selama beberapa bulan ini. Ngakunya sih bersyukur. Kalau ada yang menegur atau menasihati “Fajri, kamu harusnya lebih bersyukur, banyak2 bersyukur atas apa yang telah terjadi padamu dan nikmat yang Allah SWT berikan padamu. Banyak orang yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama sepertimu.”, reaksi saya otomatis, “Iya kang/Bu/siapapun itu” dan, ada sedikit rasa penyesalan dalam hati.

                Kenapa menyesal.

                Jawabannya adalah...karena saya merasa, sungguh, bahwa IMAN saya yang benar-benar lagi turun dan bahkan parahnya terus turun dari sejak saya memasuki kuliah. Pasalnya...saya terlalu berambisi ingin membuktikan salah orang-orang yang sering mengkritsi saya sejak SMA maupun SMP, bahwa saya ini orang yang pendiam, pemalas, tak bisa berbuat apa-apa, tak punya kepercayaan diri, tak bisa berbicara dengan perempuan, tidak mungkin dapat pacar, dan sebagainya. Saya berniat dan bertekad untuk dapat pacar sekali saja, sejak awal masuk kuliah, agar dapat membuktikan bahwa orang-orang yang mengkritisi saya tersebut SALAH BESAR. Saya berniat berpacaran.

                Dan ternyata gagal.

                Saya bahkan mendapat pelajaran bahwa, pacaran justru hal yang tidak menguntungkan, lebih banyak mendatangkan kerugian dibanding manfaat. Itu hal yang saya syukuri, meskipun sebenarnya, masih terdapat keinginan dalam hati kecil ini untuk mencoba, sekali saja. Saya belum pernah pacaran sebelumnya, bung. Saya ingin merasakannya sekali saja. Kenapa orang-orang lain bisa dan dapat sedangkan saya tidak bisa. Tidak pacaran sama dengan tidak menikmati masa muda.

                Lalu, add to the fact that saya melihat bahwa diri saya sendiri itu kurang gaul. Orang-orang yang dulu mengkritisi saya, itu banyak berasal dari keluarga saya sendiri. Mereka, seperti keluarga pada umumnya, mempunyai ekspektasi bagi anaknya atau cucunya atau keponakannya sebagai anak yang sehat, punya banyak teman, dan gaul. I am none of those things. Saya teh anaknya kurus, aslinya pendiam, dan punya kepribadian yang beda dari stereotipe cowo pada umumnya. Saya juga suka salah tingkah, apalagi jika berinteraksi dengan lawan jenis. Itu semua merupakan ciri-ciri saya saat SMA. Saya tidak gaul sama sekali. Saya aktivis rohis pas SMA. Lebih suka memakai baju yang sama dalam waktu yang lama. Tidak punya sense of fashion.

                Semua itu ingin saya ubah ketika masuk kuliah. Saya ingin gaul. Saya ingin lebih fashionable. Saya ingin punya pacar.

Some worked, some didnt.

                Tapi...satu hal yang saya rasa mendapatkan dampak dari semua perubahan itu...yaitu iman saya. Semakin lama, semakin turun.

                How precious that thing is to have. Iimaan.

                Kenapa, tanpa itu saya merasa gelisah. Seolah dalam hidup, tidak ada pegangan. Saya takut terbawa arus sehingga banyak melakukan hal yang bukan-bukan, yang nantinya bisa menarik saya keluar dari jalan yang benar.

                Saya ingin berprestasi. Saya ingin membanggakan dan membahagiakan orang tua saya. Sebagai bentuk terima kasih bagi mereka yang sudah bersabar menangani saya saat jaman-jaman jahiliah saya. Yang sudah bersabar menerima kritikan dan tekanan dan cacian yang diberikan orang-orang yang tidak menyukai saya, menganggap saya tidak dapat berbuat apa-apa. Sebagai bukti bagi orang-orang itu, bahwa kalian SALAH BESAR! Salah besar. This kid is more than meets the eye, mate.

                Tapi pada akhirnya apa gunanya semua itu? Gunanya melakukan semua itu? Gunanya membuktikan orang-orang itu bahwa mereka salah? Apakah sampai situ saja?

                Banyak anak-anak muda diluar sana yang senantiasa melakukan gebrakan-gebrakan, tindakan-tindakan, mengekspresikan pendapatnya dan menorehkan segudang prestasi.

                Tujuan mereka bukan untuk membuktikan para haters bahwa mereka salah. Bukan hanya itu. Tapi mereka punya misi. Punya niat mulia. Untuk bermanfaat bagi insan lainnya. Sebagai bentuk dakwah mereka. Sebagai bentuk Ibadah mereka. Bentuk Amar Ma’ruf Nahii Mungkar. Perwujudan Khoirunnaas ‘Anfauhum Linnaas.

                “Apa tujuan akang berprestasi, kang?”
                “Saya berprestasi sebagai bentuk dakwah saya, Fajri...”
-Akang Mawapres(Mahasiswa Berprestasi) Utama Unpad 2014 yang juga 10 Besar Mawapres Nasional

                Saya mendengar itu, dan melihat beliau...terkesan, dengan mata yang berbinar-binar. Dengan bathin yang saat itu juga, sama seperti saat ini, sedang berkonflik kecil.

                Kesamaan mereka, orang-orang yang menjadikan prestasi sebagai dakwah, dan pada saat yang sama bermanfaat untuk orang lain...mereka punya iman yang KOKOH, KUAT, TAK TERGOYAHKAN.

                Tidak tergoyahkan oleh kemajuan zaman, lifestyle hedonistik yang diidam-idamkan sebagian besar manusia di muka bumi ini, pujian dan pernyataan suka dari bejibun manusia yang mengidamkan dan menyukai paras yang dipercantik oleh make-up dan baju yang up to date dan fashionable.

                Mereka mah, orang-orang yang sederhana, menempuh hidup sederhana, berpakaian sederhana, alur pikirnya pun sederhana. Niat baiknya pun sederhana. Tujuan hidupnya juga sederhana.

                Namun Yaa Rabb, sungguh mulia, sungguh mulia orang-orang itu.



                Ketika Anda menduduki bangku kuliah, Anda akan melihat betapa banyak jalur-jalur kehidupan yang ditempuh oleh orang-orang yang berbeda. Semakin jelas bahwa, bagaimana hidup Anda nanti adalah pilihan Anda sendiri, yang ingin menempuh jalan seperti apa.

                Dan, sekarang saya berada pada posisi yang semakin dekat dan dekat, dengan posisi dimana saya menjadikan mereka sebagai role model. Menjadi seperti mereka, menjadi salah satu dari mereka. Semakin menjauhi keinginan untuk menjadi orang yang gaul dan punya pacar seperti ekspektasi orang-orang yang dulu mengkritisi saya. Keinginan terpendam yang tak dapat terealisasikan saat SMA, ketika menempuh SMA di lingkungan yang penuh dengan remaja-remaja gaul dan fashionable.  Well, there will be haters, haters gonna hate. But, i will have Iimaan.

                Menurut saya...lifestyle seperti itu...mempunyai hal yang tak ternilai harganya yakni iimaan, berdakwah dengan prestasi, bermanfaat bagi manusia lain....jauh lebih baik. Bagi saya.

             Yup...that kind of lifestyle is far more fulfilling.

And, i will have no regrets!

 Inshaa Allah.